Nvidia Tumbang! Rp23.000 Triliun Hilang Dalam Sekejap, Investor AI Ketar-ketir
Jensen Huang, CEO Nvidia Corp., kanan, dan Chey Tae-won, ketua SK Group, saat konferensi pers di kantor pusat SK Group di Seoul, Korea Selatan, pada hari Senin, 8 Juni 2026. Nvidia dan SK Hynix Inc., anak perusahaan SK Group, telah sepakat untuk bermitra dalam merancang generasi chip memori masa depan untuk AI, sebuah kemenangan bagi pemimpin Korea Selatan yang bersaing dengan Samsung Electronics Co. di arena yang sangat kompetitif. Fotografer: SeongJoon Cho/Bloomberg via Getty Images
Newestindonesia.co.id, Euforia yang selama ini mengangkat saham raksasa chip kecerdasan buatan (AI) Nvidia mendadak terguncang. Dalam waktu singkat, perusahaan yang menjadi simbol ledakan industri AI global itu kehilangan nilai pasar hingga sekitar US$1,4 triliun atau setara lebih dari Rp23.000 triliun (kurs Rp16.500 per dolar AS).
Koreksi tajam tersebut terjadi setelah sektor semikonduktor yang sebelumnya mencatat reli besar mulai mengalami aksi ambil untung oleh investor. Tekanan jual besar-besaran membuat kapitalisasi pasar Nvidia menyusut drastis dan memicu kekhawatiran bahwa valuasi perusahaan-perusahaan AI telah berada pada level yang terlalu tinggi.
Padahal hanya beberapa waktu sebelumnya, Nvidia menjadi salah satu perusahaan paling bernilai di dunia berkat tingginya permintaan terhadap chip AI yang digunakan oleh perusahaan teknologi, pusat data, hingga pengembang model kecerdasan buatan generatif. Dominasi Nvidia di pasar GPU membuat perusahaan tersebut menjadi penerima manfaat terbesar dari gelombang investasi AI global.
Menurut laporan CNBC Indonesia dilansir Selasa (09/06/2026), indeks saham chip semikonduktor sempat mencetak rekor tertinggi pada Rabu (3/6). Namun, setelah tekanan pasar pada akhir pekan lalu, sentimen investor berubah signifikan sehingga memicu penurunan tajam pada saham-saham teknologi, termasuk Nvidia. Meski demikian, indeks chip tersebut masih mencatat kenaikan sekitar 73% sejak awal tahun 2026.
Penurunan ini menjadi pengingat bahwa saham-saham AI tetap rentan terhadap volatilitas tinggi. Setelah mengalami kenaikan luar biasa selama beberapa tahun terakhir, ekspektasi investor terhadap pertumbuhan industri AI kini semakin tinggi. Ketika muncul tanda-tanda perlambatan atau ketidakpastian, aksi jual besar dapat terjadi dalam waktu yang sangat cepat.
Sejumlah analis sebelumnya juga telah memperingatkan potensi koreksi pada saham Nvidia setelah valuasinya melonjak ke level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Beberapa model analisis bahkan memperkirakan saham Nvidia berpotensi mengalami penurunan dalam jangka pendek seiring meningkatnya kekhawatiran mengenai biaya investasi AI dan keberlanjutan pertumbuhan sektor tersebut.
Meski demikian, banyak pelaku pasar masih menilai prospek jangka panjang Nvidia tetap kuat. Posisi perusahaan sebagai pemasok utama chip AI dunia dinilai belum tergantikan, terutama karena tingginya kebutuhan komputasi untuk pelatihan dan pengoperasian model kecerdasan buatan generasi terbaru.
Sebelumnya, Nvidia bahkan diproyeksikan memiliki peluang mencapai valuasi US$10 triliun pada akhir dekade ini jika tren adopsi AI terus berlanjut. Optimisme tersebut didorong oleh dominasi ekosistem CUDA, pertumbuhan pusat data AI, serta komitmen investasi besar dari perusahaan teknologi global dan pemerintah di berbagai negara.
Namun untuk saat ini, pasar menunjukkan bahwa reli AI tidak akan berlangsung tanpa hambatan. Hilangnya kapitalisasi pasar senilai Rp23.000 triliun dalam waktu singkat menjadi salah satu koreksi terbesar yang pernah dialami perusahaan teknologi dan memperlihatkan betapa sensitifnya sentimen investor terhadap sektor AI yang tengah menjadi pusat perhatian dunia.
“Indeks chip mencapai rekor tertinggi pada Rabu (3/6),” demikian laporan CNBC Indonesia sebelum sektor tersebut mengalami tekanan besar pada akhir pekan yang memicu koreksi tajam saham Nvidia dan perusahaan semikonduktor lainnya.
(DAW)