FIFA Kehilangan Wasit Bersejarah, Omar Artan Gagal Bertugas di Piala Dunia karena Ditolak AS

omar-artan-1780937997717_169

Omar Artan. Foto: Via Detik Sport

Newestindonesia.co.id, Amerika Serikat menuai kritik dari berbagai pihak setelah menolak masuk wasit asal Somalia, Omar Abdulkadir Artan, yang sebelumnya telah ditunjuk FIFA untuk bertugas pada Piala Dunia 2026.

Keputusan tersebut memicu kontroversi karena Artan merupakan salah satu perangkat pertandingan resmi yang telah dipilih FIFA dan dijadwalkan ambil bagian dalam turnamen sepak bola terbesar di dunia itu. Ia bahkan berpeluang mencatat sejarah sebagai wasit Somalia pertama yang memimpin pertandingan Piala Dunia.

Menurut laporan berbagai media internasional Reuters, Artan ditolak masuk saat tiba di Bandara Internasional Miami setelah melakukan perjalanan dari Istanbul. Meski telah mengantongi visa yang sah, otoritas imigrasi Amerika Serikat menyatakan terdapat persoalan dalam proses pemeriksaan keamanan sehingga yang bersangkutan dinyatakan tidak memenuhi syarat untuk memasuki wilayah negara tersebut.

FIFA kemudian mengonfirmasi bahwa Artan tidak akan dapat menjalankan tugasnya pada Piala Dunia 2026.

Media Spanyol, Diario AS, melaporkan bahwa federasi sepak bola dunia tersebut telah memastikan sang wasit tidak akan bertugas dalam turnamen yang digelar di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko.

FIFA Angkat Tangan Soal Keputusan Imigrasi

Dalam keterangannya, FIFA menegaskan bahwa keputusan terkait izin masuk ke suatu negara merupakan kewenangan penuh pemerintah setempat.

FIFA menyatakan tidak memiliki kendali atas proses imigrasi dan seluruh keputusan mengenai masuk atau tidaknya seseorang ke wilayah tuan rumah berada di tangan otoritas negara yang bersangkutan.

Sementara itu, pihak Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan Amerika Serikat (CBP) menjelaskan bahwa seluruh individu yang memasuki wilayah AS, termasuk peserta dan ofisial Piala Dunia, tetap harus menjalani proses pemeriksaan keamanan.

CBP menyebut keputusan penerimaan seseorang didasarkan pada berbagai faktor penegakan hukum dan keamanan nasional. Namun lembaga tersebut tidak secara spesifik mengungkap alasan rinci yang menyebabkan Artan ditolak masuk.

Baca juga:  Elon Musk Investasikan Rp336,8 Triliun, xAI Dirikan Pusat Data Terbesar Di Mississippi

Wasit Terbaik Afrika 2025

Kasus ini menjadi sorotan karena Artan bukan sosok sembarangan di dunia perwasitan Afrika.

Pria kelahiran Mogadishu itu dinobatkan sebagai Wasit Pria Terbaik Afrika 2025 oleh Konfederasi Sepak Bola Afrika (CAF). Sebelumnya, ia juga mencatat sejarah sebagai wasit Somalia pertama yang memimpin pertandingan di ajang Piala Afrika pada 2024.

Penunjukannya sebagai salah satu ofisial Piala Dunia 2026 dipandang sebagai pencapaian besar bagi sepak bola Somalia yang selama puluhan tahun berjuang membangun kembali kompetisi domestiknya.

Gelombang Kritik Bermunculan

Penolakan terhadap Artan memicu reaksi keras dari sejumlah tokoh Somalia.

Penasihat senior Kementerian Pemuda dan Olahraga Somalia, Ciise Aden Abshir, menilai keputusan tersebut mencederai semangat inklusivitas yang selama ini dijunjung sepak bola internasional. Ia menyerukan dukungan komunitas sepak bola global terhadap Artan yang dianggap telah bekerja keras hingga mencapai level tertinggi dunia.

Kontroversi ini juga kembali memunculkan perdebatan mengenai kebijakan pembatasan perjalanan Amerika Serikat terhadap sejumlah negara, termasuk Somalia. Beberapa pengamat menilai kasus Artan menunjukkan potensi benturan antara kebijakan keamanan nasional dan kebutuhan penyelenggaraan ajang olahraga internasional berskala global.

Omar Artan Tetap Beri Dukungan untuk Piala Dunia

Meski gagal mewujudkan mimpinya tampil di Piala Dunia 2026, Artan tetap menunjukkan sikap profesional.

Dalam pernyataannya, ia menyampaikan apresiasi kepada FIFA dan CAF atas dukungan yang diberikan selama proses berlangsung. Ia juga menegaskan akan terus melanjutkan karier sebagai wasit dan memberikan dukungan kepada rekan-rekan sesama perangkat pertandingan yang bertugas di turnamen tersebut.

Insiden ini menjadi salah satu kontroversi terbesar menjelang bergulirnya Piala Dunia 2026 dan berpotensi terus memicu perdebatan mengenai akses serta perlakuan terhadap peserta internasional dalam ajang olahraga global.

(DAW)