Newestindonesia.co.id, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami tekanan besar pada awal perdagangan pekan ini. Setelah melewati libur panjang, pasar saham Indonesia dibuka dengan sentimen negatif yang langsung menyeret IHSG ke zona merah hingga menyentuh level 6.500-an.
Pelemahan tajam ini memicu kekhawatiran pelaku pasar karena menjadi salah satu koreksi terdalam sepanjang tahun 2026. Tekanan jual terjadi hampir merata di berbagai sektor saham, sementara investor terlihat memilih melakukan aksi wait and see di tengah meningkatnya ketidakpastian global.
Berdasarkan data perdagangan RTI pada Senin (18/5/2026), IHSG dibuka turun 1,61 persen ke level 6.615 pada pukul 09.00 WIB. Tak lama setelah pembukaan, tekanan jual semakin dalam dan membuat indeks melorot ke level 6.500-an.
Pada pukul 09.05 WIB, IHSG tercatat berada di posisi 6.564,71 atau melemah 158 poin setara 2,36 persen. Sepanjang sesi awal perdagangan, indeks bergerak di rentang terendah 6.548 dan tertinggi 6.631.
Situasi ini menjadi perhatian besar karena IHSG kini menyentuh titik terendah sepanjang tahun berjalan atau year-to-date. Secara keseluruhan, penurunan indeks sejak awal tahun mencapai sekitar 24 persen.
Data perdagangan menunjukkan tekanan jual terjadi secara luas. Sebanyak 496 saham tercatat melemah, hanya 101 saham yang menguat, sementara 124 saham bergerak stagnan. Aktivitas perdagangan juga tergolong tinggi dengan volume transaksi mencapai 3,4 miliar saham.
Sementara itu, nilai transaksi atau turnover pasar mencapai Rp2,1 triliun dengan frekuensi perdagangan sebanyak 282.381 kali transaksi.
Sentimen Global Jadi Tekanan Utama
Pelemahan IHSG kali ini dinilai tidak lepas dari meningkatnya tekanan global yang masih membayangi pasar keuangan dunia. Ketidakpastian ekonomi internasional, volatilitas pasar, hingga arus keluar dana asing dari emerging market menjadi faktor dominan yang memukul pasar saham domestik.
Sebelumnya, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) juga telah menyoroti tingginya tekanan terhadap pasar modal Indonesia sepanjang 2026. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif, dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengatakan kondisi pasar saham masih bergerak sangat dinamis akibat ketidakpastian global.
Dalam keterangannya, Hasan menyebut pasar keuangan dunia masih dibayangi volatilitas tinggi sehingga berdampak langsung terhadap IHSG.
Ia menjelaskan bahwa pasar saham domestik mengalami tekanan seiring meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi ekonomi global. Meski demikian, OJK menilai likuiditas pasar modal Indonesia masih terjaga dengan baik.
“Pasar saham domestik pada April 2026 masih terlihat bergerak dinamis, sejalan dengan tingginya ketidakpastian global dan berlanjutnya volatilitas pasar keuangan secara global,” ujar Hasan dalam konferensi pers virtual, dikutip melalui detikFinance, Senin (18/05/2026).
Saham Big Caps Jadi Sasaran Aksi Jual
Tekanan terhadap IHSG juga dipicu aksi jual besar-besaran pada saham-saham berkapitalisasi jumbo atau big caps. Kondisi ini membuat indeks sulit bertahan di zona hijau sejak pembukaan perdagangan.
Dalam beberapa pekan terakhir, sektor barang baku, energi, hingga transportasi menjadi sektor yang paling dalam mengalami pelemahan. Data pasar menunjukkan investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko dan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman.
Berdasarkan laporan pasar sebelumnya, sektor barang baku sempat terkoreksi hingga 7,80 persen, diikuti sektor transportasi dan energi yang juga mengalami penurunan signifikan.
Tekanan jual pada saham berkapitalisasi besar disebut menjadi pemicu utama anjloknya indeks dalam beberapa sesi perdagangan terakhir.
Investor Asing Masih Waspada
Kondisi pasar global yang belum stabil membuat investor asing cenderung berhati-hati dalam menempatkan dana di negara berkembang, termasuk Indonesia. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi dunia, arah suku bunga global, hingga konflik geopolitik masih menjadi sentimen utama.
Sebelumnya, analis pasar juga pernah menyoroti bahwa perang dagang dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat memberi dampak besar terhadap arus modal di emerging market.
Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Nafan Aji Gusta pernah menjelaskan bahwa sentimen global sangat memengaruhi pergerakan IHSG.
Menurutnya, kebijakan tarif perdagangan dan tekanan inflasi global membuat investor lebih selektif terhadap pasar saham negara berkembang.
“Sentimen trade war ini memang benar-benar kuat bagi market,” kata Nafan saat menjelaskan tekanan IHSG dalam perdagangan sebelumnya.
Ia juga menyoroti pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi bersamaan dengan keluarnya aliran modal asing dari emerging market.
Pelaku Pasar Menanti Arah Kebijakan
Di tengah pelemahan tajam IHSG, pelaku pasar kini menanti berbagai sentimen baru yang dapat menjadi penopang pasar. Investor masih mencermati arah kebijakan bank sentral global, kondisi ekonomi China, hingga perkembangan geopolitik internasional.
Selain itu, pasar juga menunggu langkah regulator dan otoritas pasar modal Indonesia dalam menjaga stabilitas perdagangan saham di dalam negeri.
Meski tekanan masih besar, sejumlah pihak menilai fundamental ekonomi Indonesia relatif tetap terjaga. Hal ini terlihat dari pasar obligasi domestik yang masih mencatat penguatan serta masuknya dana investor pada instrumen reksa dana dan Surat Berharga Negara (SBN).
Namun demikian, volatilitas diperkirakan masih akan tinggi dalam beberapa waktu ke depan. Investor pun diminta tetap berhati-hati dan menerapkan manajemen risiko dalam melakukan transaksi di pasar saham.
Pelemahan IHSG ke level 6.500 menjadi sinyal bahwa pasar masih sangat sensitif terhadap sentimen global. Jika tekanan eksternal terus meningkat, bukan tidak mungkin volatilitas pasar saham Indonesia akan berlanjut dalam beberapa pekan mendatang.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp


