Newestindonesia.co.id, Tren penggunaan senjata mainan oleh sejumlah remaja di Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), menjadi sorotan serius sejumlah pihak. Aktivitas yang kerap disebut sebagai “perang” senjata mainan ini dinilai semakin meresahkan masyarakat, terutama karena sering terjadi di ruang publik selama bulan Ramadan.
Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Makassar meminta pemerintah di tingkat wilayah hingga lingkungan paling bawah untuk tidak tinggal diam menghadapi fenomena tersebut. Camat, lurah hingga ketua RT/RW diminta aktif melakukan pencegahan agar kegiatan itu tidak berkembang menjadi gangguan keamanan yang lebih besar.
Ketua Komisi D DPRD Makassar Ari Ashari Ilham menilai penggunaan senjata mainan yang dilakukan secara berkelompok berpotensi memicu konflik antar kelompok remaja.
“Ini kan kita ada ketua RT/RW, ada petugas-petugas TNI/Polri di bawah, ini harusnya dimaksimalkan untuk mereka mengegah dari sektor yang paling kecil seperti itu, memang senjata mainan, tapi ujungnya bisa tawuran atau perang kelompok, ini bisa jadi pemicu,” ujar Ari Ashari Ilham kepada wartawan dikutip melalui detikSulsel.
Menurut Ari, fenomena tersebut seringkali diiringi aktivitas konvoi kendaraan dan aksi keributan yang dapat memicu pelanggaran hukum. Ia menyebut kegiatan itu kerap muncul saat Ramadan ketika banyak remaja berkumpul setelah menjalankan salat tarawih.
“Anak-anak itu rata-rata kalau setelah tarawih sampainya sahur, itu banyak sekali lakukan konvoi-konvoi, pawai-pawai keliling,” katanya.
Peran RT/RW Dinilai Paling Strategis
Ari menegaskan bahwa ketua RT dan RW memiliki posisi strategis karena menjadi perpanjangan tangan pemerintah di tingkat masyarakat. Oleh sebab itu, mereka dinilai memiliki peran penting dalam memberikan imbauan langsung kepada para remaja agar tidak melakukan kegiatan yang mengganggu ketertiban umum.
“Peran RT/RW kita harus dimaksimalkan karena mereka ini kan perpanjangan tangan pemerintah yang paling bawah. Sehingga mereka yang bisa mengimbau kepada anak-anak muda di wilayah masing-masing untuk tidak melakukan hal-hal yang mengganggu ketertiban orang lain,” jelasnya.
Selain memberikan imbauan, para ketua lingkungan juga diminta menjalin koordinasi dengan aparat keamanan di wilayah masing-masing, seperti Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Pengawasan tersebut diharapkan dapat berjalan lebih efektif apabila dikomandoi langsung oleh lurah dan camat setempat.
“RT/RW harus berkoordinasi dengan Babinsa dan Binmas, tapi kegiatan itu harus dikomandoi oleh lurah/camat masing-masing bagaimana agar pengawasan ini efektif,” pungkasnya.
Polisi Terima Banyak Keluhan Warga
Sementara itu, pihak kepolisian juga mengakui menerima banyak laporan masyarakat terkait aktivitas perang-perangan menggunakan senjata mainan di sejumlah wilayah Kota Makassar.
Kapolrestabes Makassar Kombes Arya Perdana mengatakan permainan tersebut berpotensi memicu konflik karena dapat menimbulkan ketersinggungan antar kelompok.
“Bisa menimbulkan ketersinggungan dan terjadi perang kelompok,” ujarnya.
Menurut Arya, aksi tembak-tembakan menggunakan senjata mainan dengan peluru jeli maupun butiran plastik sering dilakukan oleh kelompok remaja di jalanan hingga lorong-lorong permukiman. Aktivitas tersebut kerap disertai konvoi kendaraan yang mengganggu kenyamanan warga.
“Kami sudah menerima banyak komplain dari masyarakat terkait permainan masyarakat khususnya remaja-remaja yang tidak bertanggung jawab menggunakan senapan ini untuk main perang-perangan di jalan sehingga mengganggu ketenangan masyarakat terutama yang melintas,” katanya.
Polisi menyebut patroli rutin terus dilakukan untuk membubarkan kelompok remaja yang terlibat dalam kegiatan tersebut. Selain memberikan pembinaan kepada para pelaku dan orang tuanya, aparat juga telah menyita sejumlah senjata mainan yang digunakan dalam aksi tersebut.
Berpotensi Menimbulkan Bahaya
Meski tergolong mainan, penggunaan senjata tersebut tetap dinilai berbahaya jika digunakan secara tidak bertanggung jawab. Peluru plastik yang ditembakkan dapat melukai orang lain, bahkan berpotensi menyebabkan kebutaan apabila mengenai mata.
Selain itu, aksi tembak-tembakan yang dilakukan di jalan juga dapat memicu kecelakaan lalu lintas jika mengenai pengendara yang sedang melintas.
Pemerintah Kota Makassar sebelumnya juga menilai fenomena tersebut sudah berlebihan karena dilakukan dengan cara saling kejar menggunakan sepeda motor sambil menembakkan peluru jeli maupun plastik. Oleh karena itu, berbagai pihak diharapkan dapat bersama-sama melakukan pencegahan agar situasi keamanan tetap kondusif selama Ramadan.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login