Newestindonesia.co.id, Perang yang dilancarkan oleh Rusia terhadap Ukraina telah memasuki masa ke-empatnya, menandai lebih dari 1.418 hari konflik penuh sejak invasi besar-besaran dimulai pada 24 Februari 2022 — periode waktu yang sama lamanya dengan kampanye Soviet dalam Perang Patriotik Hebat pada Perang Dunia II. Namun, sejauh ini upaya perdamaian masih jauh dari keberhasilan, meskipun ada tekanan diplomatik dari Amerika Serikat dan sekutu Barat.
Dilansir melalui Associated Press, Sejak awal serangan di Ukraina, Rusia gagal merebut ibu kota Kyiv dan menggulingkan pemerintah Ukraina. Alih-alih berakhir cepat, konflik berubah menjadi perang parit yang brutal, menelan jutaan korban — dengan jumlah tentara tewas, terluka, atau hilang diperkirakan mencapai hampir dua juta di kedua belah pihak.
Pertempuran Tersendat di Timur Ukraina
Pasukan Rusia telah menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina sejak aneksasi ilegal Crimea pada 2014, tetapi kemajuan militernya lamban. Dalam dua tahun terakhir di wilayah Donetsk saja, pasukan Rusia hanya maju sekitar 50 kilometer melalui pertempuran sengit untuk menguasai beberapa benteng utama.
Mark Rutte, Sekretaris Jenderal NATO, mengomentari lambatnya kemajuan Rusia, menggambarkan kecepatan serangan sebagai “kecepatan siput taman” — sindiran tajam terhadap stagnasi tujuan perang Moskow.
Teknologi Perang yang Berubah
Konflik ini juga mencatat fenomena unik dalam sejarah militer: peran drone yang sangat dominan, yang mengubah dinamika medan tempur. Ukraina sejak awal menggunakan drone untuk mengimbangi keunggulan api Rusia. Sebaliknya, pihak Moskow mengembangkan drone dengan jangkauan lebih jauh, bahkan menggunakan teknologi kabel optical fiber untuk menghindari sistem perang elektronik lawan.
Dalam operasi berani yang diberi nama sandi “Spiderweb”, Ukraina melancarkan serangan drone dari kendaraan taktis untuk menghantam pangkalan udara Rusia yang menjadi markas pesawat pembom jarak jauh — sebuah pukulan diplomatik dan militer yang memalukan bagi Kremlin.
Upaya Perdamaian dan Hambatan Diplomatik
Trump: Upaya AS untuk Damai Tetap Berlanjut
Presiden Amerika Serikat Donald Trump telah berupaya memediasi gencatan senjata dan perundingan damai antara Ukraina dan Rusia, meskipun berbagai tuntutan yang saling bertentangan tetap menjadi hambatan utama. Trump pernah menyatakan optimismenya bahwa kedua pihak “lebih dekat dari sebelumnya” untuk mencapai kesepakatan damai meskipun negosiasi tetap kompleks dan belum memastikan hasil akhir.
Namun, upaya diplomasi Amerika Serikat ini tidak berjalan mulus. Ada tekanan kuat dari pemerintahan Trump agar Ukraina menerima beberapa kompromi, termasuk kemungkinan penarikan pasukan dari wilayah tertentu yang dikuasai konflik — sebuah usulan yang ditentang tegas oleh Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy.
Dalam konferensi pers bersama NATO di Kyiv, Zelenskyy mengatakan bahwa Washington telah memberikan batas waktu hingga Juni 2026 untuk mencapai kesepakatan yang mengakhiri perang. Ia memperingatkan bahwa kegagalan mencapai kesepakatan dapat memicu tekanan diplomatik dan geopolitik lebih lanjut.
“Kami siap berbicara tentang gencatan senjata di sepanjang garis kontak saat ini, tetapi setiap kesepakatan harus mencakup jaminan keamanan yang konkret,” ujar Zelenskyy dalam konferensi pers dikutip melalui The Guardian.
Pertemuan Geneva Tanpa Terobosan Besar
Putaran terbaru negosiasi damai yang difasilitasi AS dan negara mediator lainnya di Geneva berakhir tanpa terobosan besar. Zelenskyy menuduh Moskow sengaja memperlambat proses, sementara pihak Rusia menyebut pembicaraan itu “sulit namun profesional”. Masalah utama seperti status wilayah Donbas dan kontrol atas fasilitas nuklir Zaporizhzhia pun tetap belum tuntas.
Tantangan dan Prospek Masa Depan
Konflik yang telah berlangsung hampir empat tahun ini tetap menjadi salah satu konflik paling menghancurkan di Eropa sejak Perang Dunia II. Meskipun tekanan internasional meningkat dan sanksi terhadap Rusia terus diberlakukan, mesin perang Moskow tetap operasional, sementara Ukraina terus menolak konsesi wilayah tanpa jaminan keamanan kuat.
Para analis mengatakan bahwa tetap minimnya konsesi dari kedua belah pihak — terutama pada isu strategis seperti kedaulatan wilayah dan jaminan keamanan NATO — membuat prospek perdamaian komprehensif semakin rumit. Kemungkinan kemenangan militer di medan laga maupun tekanan domestik di dalam negeri masing-masing akan menentukan arah akhir konflik.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti SekarangIngin publikasi berita mengenai personal, perusahaan, instansi? Hubungi marketing kami di WhatsApp



You must be logged in to post a comment Login