Newestindonesia.co.id – Kalbar, Seorang siswi kelas Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri 1 Pontianak berusia 13 tahun ditemukan tewas tergantung di rumahnya di Kecamatan Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya pada Kamis subuh, 22 Januari 2026. Peristiwa ini menyisakan duka mendalam setelah diketahui motif tragisnya adalah rasa malu dan bersalah atas sebuah kesalahan kecil yang berujung dramatis.
Pihak keluarga pertama kali menemukan korban sekitar pukul 03.00 WIB dini hari oleh sang abang, yang lalu melihat korban dalam keadaan tergantung. Di samping jenazah, ditemukan sebuah surat terakhir yang ditulis korban.
Kronologi Kejadian
Menurut penjelasan Kepala Seksi Pendidikan Madrasah (Kasi Penmad) Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kota Pontianak, Aris Sujarwono, peristiwa bermula pada 17 Januari 2026 saat kegiatan ekstrakurikuler Palang Merah Remaja (PMR) berlangsung di sekolah.
Seorang peserta kegiatan merasa kehilangan uang sekitar Rp200 ribu. Dari rekaman kamera sirkuit (CCTV), korban terekam diduga mengambil uang tersebut saat kelas kosong.
Aris menyampaikan bahwa motif tindakan korban bukan untuk mencuri, tetapi diduga bermaksud meminjam tanpa izin dengan niat ingin membelikan sesuatu untuk ibunya.
“Kalau boleh saya sampaikan, almarhumah ingin membelikan kado untuk ibunya. Sedih saya mendengarnya,” ujarnya kepada media dikutip melalui detikKalimantan.
Setelah kejadian itu diketahui, wali kelas memanggil korban. Dalam keterangannya, korban mengatakan bahwa uang tersebut sudah ada di rumah dan bahwa kebutuhan yang dimaksud akan dibantu. Saat itu, tidak terjadi tekanan berlebihan atau hinaan terhadap korban kecuali percakapan sehari-hari antara teman sebaya.
Surat Terakhir dan Alasan Korban
Sebelum mengakhiri hidupnya, korban meninggalkan surat permintaan maaf kepada keluarga. Dalam surat itu, ia meminta maaf kepada orang tua atas keputusan yang diambilnya, menyatakan tidak menyalahkan siapa pun, sekaligus berharap agar kasus ini tidak dilaporkan ke polisi.
Berikut isi surat yang ditulis tangan korban:
“Ma, maaf ye udah bikin mama kecewa, kite takut ma besok ke sekolah karne name udah jelek.
Kemarin dipanggil guru same kakak kelas. Makenye takut dan malu mau datang ke sekolah lagi.
Kite tahu cara nyelesain masalah ini salah besar. Gak kuat ngadepinnya.
Makasih ya ma karne udah jadi ibu yang baik. Makasih udah dengerin cerita ini tanpa emosi…
Tolong permasalahan ini jangan diramaikan, kite cuma pengen dikuburkan dengan layak. Jangan sampai melibatkan polisi.”
Klarifikasi dan Sikap Pihak Sekolah
Menanggapi berkembangnya kabar yang beredar di media sosial — termasuk dugaan korban mengalami bullying atau perundungan dari teman-temannya — pihak Kemenag Pontianak secara tegas menepis informasi tersebut.
Mereka menegaskan bahwa peristiwa ini bukan disebabkan oleh bullying di lingkungan sekolah. Namun, Kemenag juga menyatakan bahwa perundungan tidak boleh terjadi di mana pun, termasuk di lingkungan pendidikan.
Aris menambahkan bahwa pihak sekolah telah melakukan pendekatan persuasif kepada korban sebelum kejadian tragis, dan bahwa hubungan antara korban dan teman-temannya pada saat itu tampak normal.
Imbauan Kesehatan Mental
Kasus ini kembali mengingatkan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental pelajar. Perasaan malu, rasa bersalah kuat, dan ketidakmampuan mengelola stres atau tekanan emosional dapat berdampak sangat serius jika tidak ada dukungan yang memadai dari keluarga, sekolah, dan lingkungan sosial.
Ahli kesehatan mental sering menekankan pentingnya akses dukungan psikologis pada usia remaja, terutama ketika mereka menghadapi konflik internal atau rasa takut yang berlebihan.
Jika Anda atau orang terdekat mengalami gejala depresi, pemikiran untuk bunuh diri, atau kesulitan psikologis lainnya, segera konsultasikan kepada profesional seperti psikolog, psikiater, atau layanan kesehatan mental terdekat.
(DAW)
Catatan: Artikel ini hanya untuk mengedukasi dan pemberitaan belaka, Bilamana kamu memiliki gangguan psikologis, silahkan untuk melakukan konsultasi dengan Psikolog.
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti Sekarang



You must be logged in to post a comment Login