Newestindonesia.co.id – Jakarta, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi tajam pada perdagangan Rabu (28/1) pagi, setelah pengumuman dari MSCI (Morgan Stanley Capital International) terkait metodologi penghitungan free float saham Indonesia. Koreksi pasar saham ini mencapai sekitar 6,05 persen sebelum sesi I berakhir dan menjadi tekanan utama terhadap saham-saham konglomerat besar Tanah Air.
IHSG tercatat bergerak bearish sejak pembukaan pasar dengan pelemahan yang dipicu oleh aksi jual saham emiten berkapitalisasi besar. Sejumlah saham milik kelompok konglomerasi mengalami koreksi signifikan hingga menyentuh level Auto Reject Bawah (ARB).
Tekanan pada Saham Konglomerat
Beberapa saham yang mencatatkan penurunan signifikan di antaranya:
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT) turun hingga ARB sekitar 14,81% ke Rp 2.300 per saham.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) melemah 11,84% ke Rp 8.375.
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) tercatat melemah 5% ke Rp 6.650.
- PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA) anjlok lebih dalam 12,14% ke Rp 1.230.
- Saham milik kelompok Bakrie seperti PT Bumi Resources Tbk (BUMI) turun 14,53% dan PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) melemah 9,42%.
- PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) bahkan menyentuh ARB dan turun 14,97%.
- Emiten lain seperti PT Bukit Uluwatu Villa Tbk (BUVA) juga terkoreksi hingga 15%.
Tekanan jual ini membuat IHSG sempat menyentuh level terendah di sekitar 8.349,65 poin sebelum sedikit rebound. Hingga pengamatan pukul 10.24 WIB, tercatat 719 saham melemah, 43 saham menguat, dan 38 saham stagnan.
Sektor Energi dan Kapitalisasi Besar Turun
Selain saham konglomerat, sektor energi menjadi salah satu yang paling terdampak. Sebelumnya dilaporkan bahwa sektor ini melemah hingga 9,32 persen, menunjukkan ketidakpastian pasar terhadap emiten di sektor komoditas energi.
Dampak buruk ini mencerminkan reaksi investor terhadap keputusan MSCI yang dinilai berpotensi memengaruhi indeks saham Indonesia di mata global.
MSCI merupakan penyedia indeks global yang menjadi acuan bagi banyak dana investasi internasional termasuk ETF berbasis indeks.
Respons Bursa Efek Indonesia
Menanggapi gejolak pasar, Bursa Efek Indonesia (BEI) telah memulai diskusi dengan MSCI untuk memahami implikasi dari perubahan metodologi tersebut serta melihat langkah-langkah yang diperlukan untuk memitigasi dampak jangka panjang terhadap pasar modal domestik.
Namun demikian, hingga sesi pertama perdagangan berakhir, belum ada pernyataan resmi dari regulator pasar atau BEI yang merinci strategi konkret untuk menstabilkan IHSG.
Beberapa analis pasar mencatat bahwa reaksi pasar yang tajam menunjukkan sensitivitas investor terhadap perubahan struktur indeks global, meskipun beberapa koreksi bisa menjadi peluang strategis bagi investor jangka panjang.
(DAW)
Dapatkan update berita terkini langsung di WhatsApp Anda.
Ikuti Sekarang



You must be logged in to post a comment Login