Newestindonesia.co.id – Tangerang, Fenomena pergeseran tanah mengakibatkan bagian permukiman di Kampung Cipayaeun, Desa Tegal Sari, Kecamatan Tigaraksa, Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten amblas, sehingga lima rumah warga mengalami retakan serius dan nyaris roboh. Peristiwa ini dilaporkan terjadi pada Kamis (22/1/2026) pukul 13.50 WIB dan memicu kepanikan warga yang kemudian memilih mengungsi ke rumah kerabatnya demi keselamatan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Tangerang menyampaikan dalam laporan resmi bahwa tanah amblas mencapai kedalaman sekitar 50–60 sentimeter, yang menyebabkan struktur lantai dan dinding rumah terdampak retak serta menimbulkan risiko ambruk.
“Lima rumah mengalami retak dan amblas pada lantainya hingga nyaris roboh,” ujar BPBD Kabupaten Tangerang melalui akun Instagram resmi mereka, dikutip pada Senin (26/1/2026).
Warga Panik, Mengungsi Demi Keselamatan
Meski kondisi tanah yang bergerak tidak menimbulkan korban jiwa, sejumlah warga memilih meninggalkan hunian mereka karena khawatir keselamatan keluarga terancam, terlebih jika curah hujan meningkat.
Seorang pemilik rumah yang terdampak mengatakan,
“Kami mengungsi lah ke tempat saudara kami, karena kami khawatir rumahnya ambruk apalagi kalau turun hujan.”
Keputusan ini diambil oleh keluarga sampai situasi benar-benar dinyatakan aman oleh petugas setempat.
Upaya Tanggap Darurat & Penanganan
Setelah menerima laporan dari warga, petugas BPBD Tangerang bersama dengan aparat desa dan kecamatan langsung melakukan pendataan kondisi rumah dan lokasi tanah yang bergerak. Koordinasi dilakukan untuk menyiapkan langkah penanganan lanjutan yang lebih komprehensif.
Langkah awal tersebut meliputi:
- Pemeriksaan kerusakan struktur bangunan;
- Penandaan zona rawan ambruk;
- Penyusunan rekomendasi tindak lanjut bersama instansi teknis.
Hingga saat ini, pihak BPBD terus memantau perkembangan kondisi tanah dan berkoordinasi dengan aparat setempat guna mengurangi risiko lanjutan.
BPBD juga menegaskan bahwa pembentukan tanah amblas ini bukan akibat aktivitas gempa bumi, karena pada hari kejadian tidak ada laporan gempa dari BMKG atau catatan aktivitas seismik setempat. Meskipun begitu, kondisi tanah yang terus bergeser tetap berpotensi membahayakan apabila tidak ditangani segera.
Peristiwa ini terjadi bersamaan dengan ancaman cuaca ekstrem dan hujan lebat yang masih membayangi wilayah Jabodetabek dan sekitarnya, termasuk Tangerang, dalam beberapa hari mendatang. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan peringatan dini agar masyarakat tetap waspada terhadap risiko hidrometeorologi yang dapat memperparah kondisi tanah labil.
(DAW)



